Baca Juga
Aku dan suamiku menikah setelah 1 tahun kami tamat dari kuliah.
Kedua mertuaku tidak setuju karena aku orang desa sedangkan suamiku orang kaya.
Mereka takut kalau nama keluarga akan hancur karena menjadikan aku istrinya dan takut semua saudaraku yang notabenenya miskin,
akan mengganggu keluarga besarnya ini.
Sponsored Ad
Akan tetapi, suamiku dan aku membuktikan kalau kami tidak seperti itu.
Kami bisa berusaha sendiri tanpa harus meminta uang kepada kedua orangtuanya.
Karna itulah kami keluar dari kota, imigrasi ke kota lain dan sewa rumah di sana.
Memang gaji kami kecil awalnya, tapi gak menyerah, kami tetap berusaha keras, meskipun tanpa dukungan dari mertua.
Suamiku anak sulung, dan dia masih ada 1 adik laki - laki sebagai si bungsu,
yang selalu patuh perkataan orangtua dan dijodohkan oleh orangtua suamiku.
Dia dijanjikan warisan, bukan anak sulung. Diiming iming untuk dibelikan rumah, mobil, kalau patuh kepada mereka.
Suamiku memang marah, tapi aku berkata, jika itu memang milikmu, itu akan kembali, mungkin bukan dari tangan mereka, tapi dari bagian lain.
Tuhan memang tidak tertidur. Dalam waktu 2 tahun, kami diangkat posisinya dan gaji kami yang dulunya 1 tahun hanya cukup untuk makan doang,
sekarang gaji 1 bulan kami itu adalah gaji kami 1 tahun dulunya, jadi kebayang gaji kami bagaimana bukan?
Rumah dan mobil pun sudah kami beli dan itu jadi sumber kebahagian kami.
Saat acara perusahaan kami, suamiku dapat THR sebesar 320 juta dan cuti libur sebulan.
Kami sangat bersyukur, akhirnya kami ada waktu untuk bulan madu. Kami merencanakan ke Eropa, tempat yang sangat aku idam - idamkan dulu.
Kami pun mulai merencakan untuk memiliki anak.
Sponsored Ad
2 hari sebelum kami berangkat, mertua kami mencari kami, dia berkata kalau kami sudah lama tidak bertemu dan ingin bertemu sapa.
Suamiku merasa aneh, tapi karna masih papa mamanya, jadi suamiku suruh aku untuk siapkan lauk pauk terbaik untuk mereka.
Aku tahu suamiku meskipun tidak suka dengan papa mamanya yang selalu bela adiknya itu, suamiku tetap mencintai mereka.
Saat mereka datang dan duduk di meja makan, kami ngobrol ringan. Sampai duduk suamiku di sebelah aku dan sebelah mama,
mama mulai berkata,"Maafkan kami jika tahun - tahun sebelumnya kami keras kepala, Itu karna kami sayang dengan kalian dan kami ingin yang terbaik untuk anakku sendiri."
Suamiku gak berkata apa - apa, dan aku merasa keadaan makin tegang, aku membalas,"yang berlalu biarkan berlalu ma... Lupakanlah..."
Mama lanjut berkata,"Iya aku tahu, kami pun melihat kesuksesan kalian dan kami bangga."
Sampai di sini, gelagat mama sudah mulai aneh,"Kamu tahu kalau kami ingin banget punya cucu, adikmu kamu juga tahu kondisinya, mereka sedang rencana punya anak tapi tidak punya uang beli rumah,
bisa gak pinjamkan uang untuk adikmu agar kami bisa gendong cucu."
Suamiku langsung marah, ternyata mau bertemu kami hanya demi mau meminjam uang untuk si bungsu, bukan karna memang kangen anak sulungnya.
Kondisi semakin memanas, bahkan suamiku menunjuk nunjuk mama yang selalu tak pernah mencintai dirinya.
Mama dan papa juga marah, mereka mengucapkan menyesal telah melahirkan suamiku dan suamiku langsung membanting meja dan masuk ke kamar,
sambil mengumpat kalau dia tidak pernah punya orangtua seperti ini.
Aku yang sedang dalam keadaan duduk, minta pembantu kami untuk membantu memberesklan makana yang jatuh ini dan aku mengantar kepulangan papa dan mama yang keliahtannya sangat sedih.
Aku tahu posisi aku sulit, namun, tugasku adalah harus membuat suamiku mampu mengampuni orangtuanya.
Aku meminta doa dari teman - teman Netizen agar aku kuat menghadapi cobaan ini.
THR 300 Juta Bikin Mertua Ingin Pinjam, Tapi Hasilnya Buat Suamiku Banting Meja Pergi! Karena...
4/
5
Oleh
Anonim
